GIZI
Senin, 08 Januari 2018
Rabu, 21 Desember 2016
Gizi
Selamat Datang Di Blog Kami....
Kesehatan Gizi
Artikel
Kesehatan kali ini khusus khusus membahas
tentang Artikel Kesehatan Gizi, bagaimana Gizi mempengaruhi kesehatan
manusia dan penyakit-penyakit apa saja yang bisa ditimbulkan oleh kekurangan
gizi.
Beragam
masalah malnutrisi banyak ditemukan pada anak-anak. Dari kurang gizi hingga
busung lapar. Lalu bagaimana membedakannya?
Masyarakat
terhenyak saat berita mengenai busung lapar yang menimpa anak-anak di NTB marak
mengisi media massa. Silang pendapat antarpejabat pun tak kalah marak. Ada yang
mengomentarinya semata-mata sebagai “kecelakaan”, sebagian menyebutnya
“sekadar” kurang gizi, dan sebagian lagi tegas-tegas mengatakannya sebagai
busung lapar.
Secara
umum, kurang gizi adalah salah satu istilah dari penyakit malnutrisi
energi-protein (MEP), yaitu penyakit yang diakibatkan kekurangan energi dan
protein. Bergantung pada derajat kekurangan energi-protein yang terjadi, maka
manifestasi penyakitnya pun berbeda-beda. MEP ringan sering diistilahkan dengan
kurang gizi. Sedangkan marasmus, kwashiorkor (sering juga diistilahkan dengan
busung lapar atau HO), dan marasmik-kwashiorkor digolongkan sebagai MEP berat.
Apa saja perbedaannya dan bagaimana ciri masing-masing?
Kurang
Gizi
Penyakit
ini paling banyak menyerang anak balita, terutama di negara-negara berkembang.
Gejala kurang giziringan relatif tidak jelas, hanya terlihat bahwa berat badan
anak tersebut lebih rendah dibanding anak seusianya. Rata-rata berat badannya
hanya sekitar 60-80% dari berat ideal. Adapun ciri-ciri klinis yang biasa
menyertainya antara lain:
- Kenaikan berat badan berkurang, terhenti, atau bahkan menurun.
- Ukuran lingkaran lengan atas menurun.
- Maturasi tulang terlambat.
- Rasio berat terhadap tinggi, normal atau cenderung menurun.
- Tebal lipat kulit normal atau semakin berkurang.
Marasmus
Anak-anak
penderita marasmus secara fisik mudah dikenali. Meski masih anak-anak, wajahnya
terlihat tua, sangat kurus karena kehilangan sebagian lemak dan otot-ototnya.
Penderita marasmus berat akan menunjukkan perubahan mental, bahkan hilang
kesadaran. Dalam stadium yang lebih ringan, anak umumnya jadi lebih cengeng dan
gampang menangis karena selalu merasa lapar. Ada pun ciri-ciri lainnya adalah:
- Berat badannya kurang dari 60% berat anak normal seusianya.
- Kulit terlihat kering, dingin dan mengendur.
- Beberapa di antaranya memiliki rambut yang mudah rontok.
- Tulang-tulang terlihat jelas menonjol.
- Sering menderita diare atau konstipasi.
- Tekanan darah cenderung rendah dibanding anak normal, dengan kadar hemoglobin yang juga lebih rendah dari semestinya.
Kwashiorkor(Busung
Lapar)
Kwashiorkor
sering juga diistilahkan sebagai busung lapar atau HO. Penampilan anak-anak
penderita HO umumnya sangat khas, terutama bagian perut yang menonjol. Berat
badannya jauh di bawah berat normal. Edema stadium berat maupun ringan biasanya
menyertai penderita ini. Beberapa ciri lain yang menyertai di antaranya:*
Perubahan mental menyolok. Banyak menangis, bahkan pada stadium lanjut anak
terlihat sangat pasif.
- Penderita nampak lemah dan ingin selalu terbaring
- Anemia.
- Diare dengan feses cair yang banyak mengandung asam laktat karena berkurangnya produksi laktase dan enzim penting lainnya.
- Kelainan kulit yang khas, dimulai dengan titik merah menyerupai petechia (perdarahan kecil yang timbul sebagai titik berwarna merah keunguan, pada kulit maupun selaput lendir, Red.), yang lambat laun kemudian menghitam. Setelah mengelupas, terlihat kemerahan dengan batas menghitam. Kelainan ini biasanya dijumpai di kulit sekitar punggung, pantat, dan sebagainya.
- Pembesaran hati. Bahkan saat rebahan, pembesaran ini dapat diraba dari luar tubuh, terasa licin dan kenyal.
Marasmik-Kwashiorkor
Penyakit
ini merupakan gabungan dari marasmus dan kwashirkor dengan gabungan gejala yang
menyertai.
- Berat badan penderita hanya berkisar di angka 60% dari berat normal. Gejala khas kedua penyakit tersebut nampak jelas, seperti edema, kelainan rambut, kelainan kulit dan sebagainya.
- Tubuh mengandung lebih banyak cairan, karena berkurangnya lemak dan otot.
- Kalium dalam tubuh menurun drastis sehingga menyebabkan gangguan metabolik seperti gangguan pada ginjal dan pankreas.
- Mineral lain dalam tubuh pun mengalami gangguan, seperti meningkatnya kadar natrium dan fosfor inorganik serta menurunnya kadar magnesium.
Gagal
Tumbuh
Selain
malnutrisi energi-protein di atas, ada juga gangguan pertumbuhan yang
diistilahkan dengan gagal tumbuh. Yang dimaksud dengan gagal tumbuh adalah
bayi/anak dengan pertumbuhan fisik kurang secara bermakna dibanding anak
sebayanya. Untuk mudahnya, pertumbuhan anak tersebut ada di bawah kurva
pertumbuhan normal. Tanda-tanda lainnya adalah:
- Kegagalan mencapai tinggi dan berat badan ideal
- Hilangnya lemak di bawah kulit secara signifikan
- Berkurangnya massa otot
- Dermatitis
- Infeksi berulang
Faktor
Penyebab
Secara
umum masalah malnutrisi energi-protein (MEP) disebabkan beberapa faktor. Yang
paling dominan adalah tanggung jawab negara terhadap rakyatnya karena
bagaimanapun MEP tidak akan terjadi bila kesejahteraan rakyat terpenuhi.
Berikut beberapa faktor penyebabnya:
- Faktor sosial; yang dimaksud di sini adalah rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya makanan bergizi bagi pertumbuhan anak. Sehingga banyak balita yang diberi makan “sekadarnya” atau asal kenyang padahal miskin gizi.
- Kemiskinan; sering dituding sebagai biang keladi munculnya penyakit ini di negara-negara berkembang. Rendahnya pendapatan masyarakat menyebabkan kebutuhan paling mendasar, yaitu pangan pun seringkali tak bisa terpenuhi.
- Laju pertambahan penduduk yang tidak diimbangi dengan bertambahnya ketersediaan bahan pangan akan menyebabkan krisis pangan. Ini pun menjadi penyebab munculnya penyakit MEP.
- Infeksi. Tak dapat dipungkiri memang ada hubungan erat antara infeksi dengan malnutrisi. Infeksi sekecil apa pun berpengaruh pada tubuh. Sedangkan kondisi malnutrisi akan semakin memperlemah daya tahan tubuh yang pada giliran berikutnya akan mempermudah masuknya beragam penyakit.
Tindak pencegahan otomatis sudah
dilakukan bila faktor-faktor penyebabnya dapat dihindari. Misalnya ketersediaan
pangan yang tercukupi, daya beli masyarakat untuk dapat membeli bahan pangan,
serta pentingnya sosialisasi makanan bergizi bagi balita.
Langkah
Pengobatan
Pengobatan
pada penderita MEP tentu saja harus disesuaikan dengan tingkatannya. Penderita
kurang gizi stadium ringan, contohnya, diatasi dengan perbaikan gizi. Dalam
sehari anak-anak ini harus mendapat masukan protein sekitar 2-3 gram atau
setara dengan 100-150 Kkal.
Sedangkan pengobatan MEP berat
cenderung lebih kompleks karena masing-masing penyakit yang menyertai harus
diobati satu per satu. Penderita pun sebaiknya dirawat di rumah sakit untuk
mendapat perhatian medis secara penuh. Sejalan dengan pengobatan penyakit
penyerta maupun infeksinya, status gizi anak tersebut terus diperbaiki hingga
sembuh.
Sumber:
Dr. Adi S. Budhipramono, Sp.A.,
Langganan:
Postingan (Atom)
